Deja Vu


Hujan menangis. Seperti itulah aku memikirkan hujan kali ini. Derasnya menumpah tepat beberapa detik setelah aku dan orang-orang menguburkan diriku dalam liang yang tanahnya kini menjadi becek dan berair. Mungkin besok dan nanti tak ada hari lagi sebab hujan kali ini betul-betul merampas hak matahari dan menjadikannya tanpa wujud. Hilang serupa malam. Aku menyaksikan kuburanku sendiri. Air keluar dari setiap sisinya. Mungkin tanah di atasku itu yang kini telah mencair tak kuat menampung jutaan volume air yang terus mengalirinya, atau mungkin ia juga menangis?
Tak cukup dengan air langit yang terus membumi, suara yang penuh dengan nada samar datang beriringan dengannya. Aku tak mengerti apa yang dibunyikannya atau yang ingin dikatakannya, tapi suatu masa aku menangkap bunyi sirine mobil pengantar jenazah terselip di antara raungannya. Aku mengabari diriku tentangnya, ia pun berduka.
Aku menyudutkan tubuh pada tepi kamar. Ingin kukutuk air yang terus menghujaniku dan petir yang terus meneriakiku.
***
Seseorang menghampiriku. Mataku yang sembab tak mengenalinya. Seperti kanvas yang tak tersentuh kuas, wajahnya putih dan kosong. Aku tak menemukan sedikit goresan di sana. Betul-betul kaku dan dingin. Berikutnya, dari jarak yang tidak begitu jauh dan tidak begitu dekat dari mataku, terlihat wajahnya mulai bercerita. Bibirnya digerak-gerakkan seperti ingin melafalkan sesuatu, tapi telinga dan mataku tak mampu menerjamahkannya. Aku kalap.
***
Aku merasakan tubuhku membatu. Beku. Gemetar menahan dingin. Tulangku terasa nyeri seperti tertusuk-tusuk duri. Pori-poriku mengeluarkan air, tapi aku merasakannya panas. Keringat panas.
Beberapa jam lamanya, aku tetap dengan keadaan itu, terbaring kaku. Aku mulai menghapal kejadian-kejadian sama yang selalu berulang setiap jam-nya di ruangan beukuran sedang dan putih itu. Aku juga mulai menghapal wajah-wajah yang selalu datang bergiliran menemaniku. Aku tak bisa mengingat jumlahnya tapi mereka semua serupa. Berambut panjang dan indah, berwajah cerah dengan mata dan bibir selalu tersenyum, potongan baju mereka pun selalu sama dan semuanya berwarna putih bersih.
***
Tubuhku terbentur di sudut kursi. Seseorang melemparku dengan keras ke dalam ruangan yang lebih pantas di sebut neraka. Atau mungkin memang inilah neraka yang sering disebut-sebut para penceramah dalam dakwahnya. Mungkin tempat ini sudah menjadi neraka jauh sebelum aku menamainya neraka dan berada di dalamnya. Pengap dan gelap.
Aku mencium bau keringat dan bukan dari tubuhku. Mungkin ada orang lain di tempat ini. Aku meraba-raba sisi tembok yang kasar dan gelap itu.
“Siapa di sana?” Teriakku. Suaraku terpantul dan menanyaiku balik dengan pertanyaan yang sama. Aku mengulang kembali enam sampai delapan kali tapi tetap tak ada jawaban.
“Weh bocah sialan, hentikan! Telingaku sakit mendengar suaramu.” Seseorang menggertakku dari luar. Penjaga ruangan ini.
“Siapa yang kau sebut bocah? Dasar kacung tolol.”
“Apa? Kau memanggilku kacung?” Suaranya meninggi.
“Iya kacung! Kenapa?”
“Coba kau ulang sekali lagi!”
“K A – C U N G!!!”
Wajahnya memerah. Matanya melotot tajam. Napasnya tersengal-sengal. Nampaknya ia betul-betul ingin menelanku bulat-bulat. Ia lalu duduk kembali, setelah sempat bediri tegang. Aku merasa menang.
***
Sebelumnya. Di ruangan putih.
Empat orang berpakaian rapi datang mengerumuniku. Kali ini aku melihat seorang yang beda di antara mereka. Tak berambut panjang dan indah, tak bertubuh anggun, dan tak berwajah cerah seperti yang lainnya. Ia justru bertubuh gempal, berkulit agak gelap, dan aku tahu ia seorang lelaki. Ia menyunggingkan senyum ke arahku. Samar-samar aku mendengar ia membisikkan sesuatu kepada salah seorang rekannya. Perempuan itu lalu beranjak pergi dan kembali dengan beberapa benda asing di tangannya. Aku mengamati mereka dengan mata bergerak-gerak ke sana kemari. Lelaki gempal itu terlihat membisikkan sesuatu lagi, tapi kali ini bukan hanya kepada perempuan tadi, tetapi juga kepada dua rekannya yang lain. Sepertinya ada kesepakatan di antara mereka. Ketiga perempuan itu lalu merapat ke arahku. Salah seorang di antara mereka mengutak-atik tempat tidurku. Beberapa selang kemudian mereka mendorong tempat tidurku dan membawaku pergi.
“Tinggalkan aku sendiri. Biarkan aku di sini. Jangan membawaku pergi.” Aku meronta. Aku tak ingin meninggalkan ruangan putih itu. Mereka tak mempedulikan kata-kataku. Mereka tak mempedulikanku. Seperti singa yang nyaris kehilangan akal karena tertarik kemolekan rusa yang menari di depannya, aku dengan gila menerkam salah seorang di antara mereka. Kemarahan membuatku lupa diri dan tak mengingat semua kejadian setelah itu, sampai seseorang menyeretku ke sebuah ruangan yang kunamai neraka.
***
“Pergi sana. Kami tak tahan dengan tingkahmu. Anjing!” Gerutu penjaga neraka yang tiap harinya beradu mulut denganku.
Aku tersenyum puas. Terbebas dari neraka yang selama ini menyangkarku. Neraka pun menyerah kepadaku.
***
Esoknya.
Aku tiba di tempat yang kusebut surga. Kuketuk pintunya. Berkali-kali, tak ada jawaban. Aku teringat, aku pernah menyimpan kuncinya di bawah pot bunga. Kugeledah dasar pot itu dan aku menemukan yang kucari. Segera kubuka pintunya. Suasana lengang, sunyi, dan berdebu menyambutku.
“Ayah!”
“Ayah! Aku pulang.” Aku terus memanggil ayah dan berjalan ke setiap sisi rumah itu. Semua tempat kosong dan akhirnya aku sampai di depan kamarku. Aku membuka pintunya dan kenangan tentang aku, ibu, dan ayah kembali memutar di otakku. Dari balik jendela yang tingginya tak seberapa, aku melihat dua buah batu nisan saling berdampingan. Aku tak mengenali gundukan tanah di sebelah kuburan ibu. Aku melangkah ke pojok kamar hingga berdiri tepat di muka jendela. Tulisan di nisan itu pun semakin jelas. Aku mengejanya, I-S-M-A-I-L.
Seketika bening di mataku terurai dan mengkristal begitu saja. Menetes seperti butiran kerikil. Mengalir dan hanya sebutir. Tertahan oleh ngilu yang menggema dan mengganggu setiap ruang tubuhku hingga tak terkira perihnya.
“Jadi di sinilah kau sekarang ayah, bersama ibu.”
***
Dulu, ibu kusebut aku. Kematian ibu kuanggap kematianku. Kuburan ibu kumaknai kuburanku. Tapi sekarang kematianmu serupa kiamat. Aku tak ingin berbicara kepada dunia lagi, sebab kau memang mengajarkanku untuk diam.

0 Coment: